Aku bukan utuk ditawar-tawarkan
Seperti makanan siap saji yang dijual
Aku tidak menunngu jawaban mau atau enggak mau
Aku hanya seorang
Aku hanya seorang yang ingin sedikit lebih dimengerti
Mungkin aku kurang pengertian
Entahlah apa yang kurang dalam diriku saat ini
Meski Aku tidak mempunyai rasa yang begitu dalam untukmu,
Namun saat kau mengatakan enggak mau sama Aku, Aku cukup terpukul
Saat kata-kata engga mau itu hadir otakku langsung mengingat makanan yang sudah tidak dihargai
Dan lebih sakitnya Aku menganggap diriku seperti makanan itu saat kata-kata enggak mau itu hadir
Thankyou for Someone
Minggu, 26 September 2010
Jumat, 03 September 2010
Tentang Dihargai atau Menghargai
Semua rasa itu seperti duri-duri yang sedang menusuk relung jiwa perasaan hati dan pikiran saya. Saat diri saya merasa tidak dihargai, itulah yang saya rasakan. Semua orang disekitar saya, saya anggap kejam. Dipikiran saya adalah tak ada setitikpun rasa khawatir tentang saya dibenak mereka.
Ditambah lagi hujatan yang tiba-tiba datang dari mulut seseorang. Entah apakah itu benar-benar hujatan atau sekedar peringatan yang terlontar dari mulut seseorang. Namun karena karamnya hati saat sedang merasa tidak dihargai lontaran itu bagaikan sebuah hujatan yang kejam saja bagi saya. Diri saya hanya bisa berteriak meraung-raung memanggil nama "ALLAH" ya Allah tolonglah hambamu! tenangkanlah perasaan ini! sabarkanlah emosi ini! begitulah manusia yang selalu ingat Tuhannya dikala susah.
Segeralah diri ini saya bawa melangkah ke tempat yang paling nyaman bagi saya. Untuk meringankan sedikit beban ini saya menangis. Itu cara saya untuk mengurangi perasaan negatif dalam diri. Setelah menangis, saya selalu mencoba berpikiran jernih dengan mengingat nama Allah. Jangan pernah bertemu dengan pikiran kotor yang akhirnya berakhir ke suatu keputus asaan yang biasanya rasanya ingin menyakiti diri saja. Kita harus melawan semua rasa itu rasa-rasa negatif yang tumbuh dalam diri, yang membuat diri kita menjadi seperti sesuatu yang tidak berharga. Marilah kita sama-sama melawan perasaan itu. Sayapun selalu berjuang untuk melawan perasaan itu.
Ditambah lagi hujatan yang tiba-tiba datang dari mulut seseorang. Entah apakah itu benar-benar hujatan atau sekedar peringatan yang terlontar dari mulut seseorang. Namun karena karamnya hati saat sedang merasa tidak dihargai lontaran itu bagaikan sebuah hujatan yang kejam saja bagi saya. Diri saya hanya bisa berteriak meraung-raung memanggil nama "ALLAH" ya Allah tolonglah hambamu! tenangkanlah perasaan ini! sabarkanlah emosi ini! begitulah manusia yang selalu ingat Tuhannya dikala susah.
Segeralah diri ini saya bawa melangkah ke tempat yang paling nyaman bagi saya. Untuk meringankan sedikit beban ini saya menangis. Itu cara saya untuk mengurangi perasaan negatif dalam diri. Setelah menangis, saya selalu mencoba berpikiran jernih dengan mengingat nama Allah. Jangan pernah bertemu dengan pikiran kotor yang akhirnya berakhir ke suatu keputus asaan yang biasanya rasanya ingin menyakiti diri saja. Kita harus melawan semua rasa itu rasa-rasa negatif yang tumbuh dalam diri, yang membuat diri kita menjadi seperti sesuatu yang tidak berharga. Marilah kita sama-sama melawan perasaan itu. Sayapun selalu berjuang untuk melawan perasaan itu.
Langganan:
Komentar (Atom)